Minggu, 30 Maret 2014

TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Dampak Positif dan Negatif Teknologi

Berdasarkan Pengalaman Pribadi

 

Pada era globalisasi seperti ini memang kehidupan manusia tidak bisa lepas dari Teknologi. Hampir setiap hari bahkan setiap saat pasti akan bersentuhan dengan teknologi. Termasuk saya, salah satu dari sekian banyak umat manusia yang terkena dampak dari teknologi tersebut.

Saya pun merasakan adanya dampak positif dan dampak negatif dari sebuah teknologi. Sekarang saya akan memaparkan berdasarkan pengalaman pribadi saya terkait dampak apa saja yang saya rasakan terkait dengan penggunaan teknologi, seperti berikut:

 

DAMPAK POSITIF:

1.     Dengan adanya teknologi seperti komputer atau laptop sangat membantu saya sebagai mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah sehingga tugas lebih mudah untuk dikerjakan.

2.     Adanya Internet. Kita dapat menghemat waktu dan biaya, Hal ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Dimana kita dapat menggunakan internet sebagai sarana komunikasi dan informasi dengan orang lain. Baik itu melalui Media social seperti Facebook, Twitter, Path, Blog atau media social lainnya. Dengan media seperti ini kita pun tetap dapat menjaga silahturahmi dengan keluarga atau teman yang berada diluar kota. Bahkan melalui media social pun kita bisa menemukan teman baru.

3.     Dengan menggunakan internet juga, kita dimudahkan untuk mecari referensi untuk bahan kuliah ataupun untuk mengerjakan tugas.

4.     Adanya teknologi elektronik seperti televisi atau radio dapat menjadi sarana penghibur dalam kehidupan manusia ketika lelah dengan segudang aktivitas.

 

DAMPAK NEGATIF:

1.     Penggunaan Handphone atau HP sangat membuat saya kecanduan. Mungkin hampir setiap saat saya membawa HP kemana-mana. Rasanya akan hampa jika saya tidak mengunakan HP dalam satu hari.

2.     Seperti Handphone, internet pun membuat saya lebih kecanduan lagi. Dari waktu 24 jam mungkin separuh waktu saya gunakan untuk internet. Apalagi sekarang adanya wifi dirumah, semakin menjadi saja untuk browsing di internet. Mulai dari membuka media social seperti Facebook, twitter dan ditambah lagi fitur-fitur dari smartphone seperti Path, Instagram, BBM for Android yang menjadi rutinitas yang tak bisa dilewatkan.

3.     Dengan Internet pun bisa membuat saya lupa untuk belajar, membaca buku, bersosialisasi dengan tetangga karena keasyikan untuk browsing internet. Bahkan ketika lagi ngumpul sama teman-teman pun handphone pun tak bisa dilepaskan sehingga masing-masing pada sibuk dengan gadgetnya sendiri.

4.     Dengan menonton televisi pun, kadang saya bisa lupa waktu. Karena tayangan-tayangan yang sangat menghibur.

 

 

 

Rabu, 26 Maret 2014

TEORI DIFUSI DAN INOVASI

PROFIL EVERETT M. ROGERS



Everett M. Rogers (6 Maret 1931 - 21 Oktober 2004) adalah seorang komunikasi sarjana ,sosiolog , penulis, dan guru. Dia terkenal karena berasal dalam difusi inovasi teori dan untuk memperkenalkan istilah adopter awal .
Rogers lahir pada keluarganya Pinehurst Pertanian di Carroll , Iowa , pada tahun 1931.Ayahnya mencintai inovasi pertanian elektromekanis, tapi sangat enggan untuk memanfaatkan inovasi biologi-kimia, sehingga ia menolak mengadopsi benih jagung hibrida baru, meskipun itu menghasilkan 25% lebih banyak tanaman dan tahan terhadap kekeringan. Selama kekeringan Iowa tahun 1936, sedangkan benih jagung hibrida berdiri tegak di pertanian tetangga, tanaman di pertanian Rogers 'layu. Ayah Rogers akhirnya yakin.   
Rogers tidak punya rencana untuk menghadiri universitas sampai seorang guru sekolah melaju dia dan beberapa teman sekelas untuk Ames untuk mengunjungi Iowa State University . Rogers memutuskan untuk mengejar gelar di bidang pertanian di sana. Dia kemudian bertugas di Perang Korea selama dua tahun. Dia kembali ke Iowa State University untuk mendapatkan gelar Ph.D. sosiologi dan statistik pada tahun 1957.
Pada awal 1990 Rogers mengalihkan perhatian ke bidang Entertainment-Education . Dengan pendanaan dari Population Communications  International. Ia mengevaluasi drama radio yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di Tanzania disebut Twende na Wakati (Mari Pergi Dengan Times). [3] Dengan Arvind Singhal dari Ohio University ia menulis Entertainment Pendidikan: A Strategi Komunikasi untuk Perubahan Sosial.
Untuk memperingati kontribusi untuk lapangan, University of Southern California Norman Lear Pusat mendirikan Everett M. Rogers Award untuk Prestasi di Entertainment-Education, yang mengakui praktik yang luar biasa atau penelitian di bidang pendidikan hiburan.
 Pada tahun 1995, Rogers pindah ke University of New Mexico, telah menjadi gemar Albuquerque sementara ditempatkan di sebuah pangkalan udara selama Perang Korea. Dia membantu UNM meluncurkan program doktor dalam komunikasi . Dia Distinguished Professor Emeritus di UNM.
Rogers menderita penyakit ginjal dan pensiun dari UNM pada musim panas 2004. Dia meninggal hanya beberapa bulan kemudian, meninggalkan seorang istri, Dr Corinne Shefner-Rogers, dan dua anak laki-laki: David Rogers Everett dan Raja.




Munculnya Teori Difusi Inovasi dimulai pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1903, ketika seorang sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Pada kurva ini ada dua sumbu dimana sumbu yang satu menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang lainnya menggambarkan dimensi waktu.
Pemikiran Tarde menjadi penting karena secara sederhana bisa menggambarkan kecenderungan yang terkait dengan proses difusi inovasi. Rogers (1983) mengatakan, Tarde’s S-shaped diffusion curve is of current importance because “most innovations have an S-shaped rate of adoption”. Dan sejak saat itu tingkat adopsi atau tingkat difusi menjadi fokus kajian penting dalam penelitian-penelitian sosiologi.
Pada tahun 1940, dua orang sosiolog, Boyce Ryan dan Neal Gross, mempublikasikan hasil penelitian difusi tentang jagung hibrida pada para petani di Iowa, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini memperbarui sekaligus menegaskan tentang difusi inovasimodel kurva S. Salah satu kesimpulan penelitian Ryan dan Gross menyatakan bahwa “The rate of adoption of the agricultural innovation followed an S-shaped normal curve when plotted on a cumulative basis over time.”
Perkembangan berikutnya dari teori Difusi Inovasi terjadi pada tahun 1960, di mana studi atau penelitian difusi mulai dikaitkan dengan berbagai topik yang lebih kontemporer, seperti dengan bidang pemasaran, budaya, dan sebagainya. Di sinilah muncul tokoh-tokoh teori Difusi Inovasi seperti Everett M. Rogers dengan karya besarnya Diffusion of Innovation (1961) F. Floyd  Shoemaker yang bersama Rogers menulis Communication of Innovation: A Cross Cultural Approach (1971) sampai Lawrence A. Brown yang menulis Innovation Diffusion: A New Perpective (1981).

A. Esensi Teori
Teori Difusi Inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Hal tersebut sejalan dengan pengertian difusi dari Rogers (1961), yaitu “as the process by which an innovation is communicated through certain channels over time among the members of a social system.” Lebih jauh dijelaskan bahwa  difusi adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaranan pesan-pesan yang berupa gagasan baru, atau dalam istilah Rogers (1961) difusi menyangkut “which is the spread of a new idea from its source of invention or creation to its ultimate users or adopters.” 
Sesuai dengan pemikiran Rogers, dalam proses difusi inovasi terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu:
1.  Inovasi, gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi untuk orang itu. Konsep ’baru’ dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama sekali.
2.  Saluran komunikasi: ’alat’ untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada penerima. Dalam memilih saluran komunikasi, sumber paling tidak perlu memperhatikan (a) tujuan diadakannya komunikasi dan (b) karakteristik penerima. Jika komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kepada khalayak yang banyak dan tersebar luas, maka saluran komunikasi yang lebih tepat, cepat dan efisien, adalah media massa. Tetapi jika komunikasi dimaksudkan untuk mengubah sikap atau perilaku penerima secara personal, maka saluran komunikasi yang paling tepat adalah saluran interpersonal.
3.  Jangka waktu: proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu. Paling tidak dimensi waktu terlihat dalam (a) proses pengambilan keputusan inovasi, (b) keinovatifan seseorang: relatif lebih awal atau lebih lambat dalammenerima inovasi, dan (c) kecepatan pengadopsian inovasi dalam sistem sosial.
4.  Sistem sosial: kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama   
Lebih lanjut teori yang dikemukakan Rogers (1995) memiliki relevansi dan argumen yang cukup signifikan dalam proses pengambilan keputusan inovasi. Teori tersebut antara lain menggambarkan tentang variabel yang berpengaruh terhadap tingkat adopsi suatu inovasi serta tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi. Variabel yang berpengaruh terhadap tahapan difusi inovasi tersebut mencakup (1) atribut inovasi (perceived atrribute of innovasion), (2) jenis keputusan inovasi (type of innovation decisions), (3) saluran komunikasi (communication channels), (4) kondisi sistem sosial (nature of social system), dan (5) peran agen perubah (change agents). 
Sementara itu tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi mencakup:
1.  Tahap Munculnya Pengetahuan (Knowledge) ketika seorang individu (atau unit pengambil keputusan lainnya) diarahkan untuk memahami eksistensi dan keuntungan/manfaat dan bagaimana suatu inovasi berfungsi
2.  Tahap Persuasi (Persuasion) ketika seorang individu (atau unit pengambil keputusan lainnya) membentuk sikap baik atau tidak baik.
3.  Tahap Keputusan (Decisions) muncul ketika seorang individu atau unit pengambil keputusan lainnya terlibat dalam aktivitas yang mengarah pada pemilihan adopsi atau penolakan sebuah inovasi.
4.  Tahapan Implementasi (Implementation), ketika sorang individu atau unit pengambil keputusan lainnya menetapkan penggunaan suatu inovasi.
5.  Tahapan Konfirmasi (Confirmation), ketika seorang individu atau unit pengambil keputusan lainnya mencari penguatan terhadap keputusan penerimaan atau penolakan inovasi yang sudah dibuat sebelumnya. 


B. Kategori Adopter
Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok adopter (penerima inovasi) sesuai dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi). Salah satu pengelompokan yang bisa dijadikan rujuakan adalah pengelompokan berdasarkan kurva adopsi, yang telah diuji oleh Rogers (1961).  
Gambaran tentang pengelompokan adopter dapat dilihat sebagai berikut:
1.  Innovators: Sekitar 2,5% individu yang pertama kali mengadopsi inovasi. Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, mobile, cerdas, kemampuan ekonomi tinggi
2.  Early Adopters (Perintis/Pelopor): 13,5% yang menjadi para perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati, akses di dalam tinggi
3.  Early Majority (Pengikut Dini): 34% yang menjadi pera pengikut awal. Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi.
4.  Late Majority (Pengikut Akhir): 34% yang menjadi pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan social, terlalu hati-hati.
5.  Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional): 16% terakhir adalah kaum kolot/tradisional. Cirinya: tradisional, terisolasi, wawasan terbatas, bukan opinion leaders,sumberdaya terbatas.
Contoh Grafik pengelompokan adopter


C. Penerapan dan keterkaitan teori

Pada awalnya, bahkan dalam beberapa perkembangan berikutnya,  teori Difusi Inovasi senantiasa dikaitkan dengan proses pembangunan masyarakat. Inovasi merupakan awal untuk terjadinya perubahan sosial, dan perubahan sosial pada dasarnya merupakan inti dari pembangunan masyarakat. Rogers dan Shoemaker (1971) menjelaskan bahwa proses difusi merupakan bagian dari proses perubahan sosial.
Perubahan sosial adalah proses dimana perubahan terjadi dalam struktur dan fungsi sistem sosial. Perubahan sosial terjadi dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu:
(1) Penemuan (invention), (2) difusi (diffusion), dan (3) konsekuensi (consequences). Penemuan adalah proses dimana ide/gagasan baru diciptakan atau dikembangkan. Difusi adalah proses dimana ide/gagasan baru  dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial, sedangkan konsekuensi adalah suatu perubahan dalam sistem sosial sebagai hasil dari adopsi atau penolakan inovasi.
Sejak  tahun 1960-an, teori difusi inovasi berkembang lebih jauh di mana fokus kajian tidak hanya dikaitkan dengan proses perubahan sosial dalam pengertian sempit. Topik studi atau penelitian difusi inovasi mulai dikaitkan dengan berbagai fenomena kontemporer yang berkembang di masyarakat.
Berbagai perpektif pun menjadi dasar dalam pengkajian proses difusi inovasi,seperti perspektif ekonomi, perspektif ’market and infrastructure’ (Brown, 1981). Salah satu definisi difusi inovasi dalam taraf perkembangan ini antara lain dikemukakan  Parker (1974), yang  mendefinisikan difusi sebagai suatu proses yang berperan memberi nilai tambah pada fungsi produksi atau proses ekonomi. Dia juga menyebutkan bahwa difusi merupakan suatu tahapan dalam proses perubahan teknik (technical change). Menurutnya difusi merupakan suatu tahapan dimana keuntungan dari suatu inovasi berlaku umum.
Dari inovator, inovasi diteruskan melalui pengguna lain hingga akhirnya menjadi hal yang biasa dan diterima sebagai bagian dari kegiatan produktif.
Berkaitan dengan proses difusi inovasi tersebut National Center for the Dissemination of Disability Research (NCDDR), 1996, menyebutkan ada 4 (empat) dimensi pemanfaatan pengetahuan (knowledge utilization), yaitu
1.  Dimensi Sumber (SOURCE) diseminasi, yaitu insitusi, organisasi, atau individu yang bertanggunggung jawab dalam menciptakan pengetahuan dan produk baru.
2.  Dimensi Isi (CONTENT) yang didiseminasikan, yaitu pengetahuan dan produk baru dimaksud yang juga termasuk bahan dan informasi pendukung lainnya.
3.  Dimensi Media (MEDIUM) Diseminasi, yaitu cara-cara bagaimana pengetahuan atau produk tersebut dikemas dan disalurkan.
4.  Dimensi Pengguna (USER), yaitu pengguna dari pengetahuan dan produk dimaksud.

Pendapat:
Menurut saya hal yang paling menarik dalam teori Rogers yaitu dalam proses difusi inovasi Rogers membagi 4 elemen diataranya pertama adanya Inovasi, gagasan, atau tindakan yang merupakan langkah awal untuk menemukan atau membuat suatu inovasi yang baru yang dapat dikembangkan dalam kehidupan manusia. Kedua adanya saluran komunikasi artinya inovasi yang baru tadi dapat di salurkan kepada khalayak dengan cepat baik melalui media cetak ataupun melalui pendekatan secara interpersonal. Ketiga jangka waktu. Dimana dalam hal sejauh mana suatu inovasi yang baru dapat diterima atau ditolak oleh khalayak. Dan terakhir yaitu sistem sosial. Dimana dalam hal ini apabila suatu inovasi tersebut mendapatkan suatu masalah maka orang-orang yang membuat inovasi tersebut dapat memecahkan masalah dengan cara berdiskusi dengan unit yang berbeda untuk mencapai tujuan bersama.
Teori Rogers ini pun sangat membantu manusia dalam menciptakan inovasi-inovasi yang baru yang dapat digunakan ataupun dimanfaatkan oleh masyarakat banyak dalam kehidupan sehari-hari. Dan juga menambah pengetahuan bagi masyarakat yang belum mengerti mengenai suatu inovasi yang baru.

Bahan Referensi
Hanafi, Abdillah. 1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional
Rogers, E.M. dan Shoemaker, F.F., 1971, Communication of Innovations, London: The FreePress
Rogers, Everett M., 1983, Diffusion of Innovations. London: The Free Press.
Rogers, Everett M, 1995, Diffusions of Innovations, Forth Edition. New York: Tree Press.
Brown, Lawrence A., Innovation Diffusion: A New Perpevtive. New York: Methuen and Co.
http://en.wikipedia.org/wiki/Everett_Rogers

Minggu, 16 Maret 2014

Kembali Terluka

Terpuruk untuk kesekian kalianya memang terasa lebih menyakitkan. Dimana kita seakan-akan lemah tak berdaya, jatuh dalam kesakitan dan tak bisa menatap kehidupan kembali. Memang rasanya sakit! Luka yang terlalu dalam sulit untuk disembuhkan. Walapun Banyak orang yang mengatakan luka itu akan sembuh dengan berjalannya waktu. Mungkin buat saya kata-kata itu memang benar tapi untuk saat ini rasanya sulit untuk menyembuhkan luka yang terlanjur basah.

Ingatkah ketika dulu masih bersama? Ingatkah ketika dulu kita masih suka bercanda gurau bersama? Dan ingatkah ketika dulu suka ngambek kecil jika ada masalah? Ah mungkin semuanya sudah hilang dalam ingatanmu, dan tak akan bisa untuk dikenang.

Waktu 2 tahun bukanlah waktu yang singkat. Semua perjalanan mungkin pernah kita lalui bersama. Suka, duka, senang, sedih, bahagia, unmood, kesal sepertinya semuanya sudah kita rasakan. Tapi sekarang, semua rasa itu mungkin sudah tak bisa kita rasakan bersama lagi. Semuanya tinggal kenangan yang berbalut perih.

Kini hanya penyesalan dan air mata yang mewakili perasaan yang sedang terluka. Tak ada lagi tawa dibibir, tak ada lagi penyemangat dalam hidup, dan tak akan ada lagi yang menemanimu saat kamu butuh sandaran untuk menceritakan keluh kesahmu dalam sehari. Semuanya seakan-akan punah dan tenggelam dalam lautan yang sangat dalam. Kenangan itu tak bisa lagi untuk dibangkitkan dan jalani kembali. Tak akan pernah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Semuanya telah menutup buku. Dan sampai buku itu usang tak akan pernah dibuka dan dibaca kembali.

Sungguh, terlalu sakit untuk mengingatnya kembali...