
Rogers
lahir pada keluarganya Pinehurst Pertanian di Carroll , Iowa , pada tahun 1931.Ayahnya mencintai
inovasi pertanian elektromekanis, tapi sangat enggan untuk memanfaatkan inovasi
biologi-kimia, sehingga ia menolak mengadopsi benih jagung hibrida baru,
meskipun itu menghasilkan 25% lebih banyak tanaman dan tahan terhadap
kekeringan. Selama kekeringan Iowa tahun 1936, sedangkan benih jagung
hibrida berdiri tegak di pertanian tetangga, tanaman di pertanian Rogers 'layu. Ayah
Rogers akhirnya yakin.
Rogers
tidak punya rencana untuk menghadiri universitas sampai seorang guru sekolah
melaju dia dan beberapa teman sekelas untuk Ames untuk mengunjungi Iowa State University . Rogers
memutuskan untuk mengejar gelar di bidang pertanian di sana. Dia kemudian
bertugas di Perang Korea selama dua tahun. Dia kembali ke Iowa State
University untuk mendapatkan gelar Ph.D. sosiologi dan statistik pada
tahun 1957.
Pada
awal 1990 Rogers mengalihkan perhatian ke bidang Entertainment-Education . Dengan
pendanaan dari Population Communications International.
Ia mengevaluasi drama radio yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan
masyarakat di Tanzania disebut Twende na Wakati (Mari Pergi Dengan
Times). [3] Dengan Arvind Singhal dari Ohio University ia
menulis Entertainment Pendidikan: A Strategi Komunikasi untuk Perubahan Sosial.
Untuk
memperingati kontribusi untuk lapangan, University of Southern
California Norman Lear Pusat mendirikan
Everett M. Rogers Award untuk Prestasi di Entertainment-Education, yang
mengakui praktik yang luar biasa atau penelitian di bidang pendidikan hiburan.
Pada tahun 1995, Rogers pindah ke University
of New Mexico, telah menjadi gemar Albuquerque sementara ditempatkan di sebuah
pangkalan udara selama Perang Korea. Dia membantu UNM meluncurkan program
doktor dalam komunikasi . Dia
Distinguished Professor Emeritus di UNM.
Rogers
menderita penyakit ginjal dan pensiun dari UNM pada musim panas 2004. Dia
meninggal hanya beberapa bulan kemudian, meninggalkan seorang istri, Dr Corinne
Shefner-Rogers, dan dua anak laki-laki: David Rogers Everett dan Raja.
Munculnya Teori Difusi
Inovasi dimulai pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1903, ketika seorang
sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S
(S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana
suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi
waktu. Pada kurva ini ada dua sumbu dimana sumbu yang satu menggambarkan
tingkat adopsi dan sumbu yang lainnya menggambarkan dimensi waktu.
Pemikiran Tarde menjadi
penting karena secara sederhana bisa menggambarkan kecenderungan yang terkait
dengan proses difusi inovasi. Rogers (1983) mengatakan, Tarde’s S-shaped
diffusion curve is of current importance because “most innovations have an
S-shaped rate of adoption”. Dan sejak saat itu tingkat adopsi atau tingkat
difusi menjadi fokus kajian penting dalam penelitian-penelitian sosiologi.
Pada tahun 1940, dua
orang sosiolog, Boyce Ryan dan Neal Gross, mempublikasikan hasil penelitian
difusi tentang jagung hibrida pada para petani di Iowa, Amerika Serikat. Hasil
penelitian ini memperbarui sekaligus menegaskan tentang difusi inovasimodel
kurva S. Salah satu kesimpulan penelitian Ryan dan Gross menyatakan bahwa “The
rate of adoption of the agricultural innovation followed an S-shaped normal
curve when plotted on a cumulative basis over time.”
Perkembangan berikutnya
dari teori Difusi Inovasi terjadi pada tahun 1960, di mana studi atau
penelitian difusi mulai dikaitkan dengan berbagai topik yang lebih kontemporer,
seperti dengan bidang pemasaran, budaya, dan sebagainya. Di sinilah muncul
tokoh-tokoh teori Difusi Inovasi seperti Everett
M. Rogers dengan karya besarnya Diffusion
of Innovation (1961) F. Floyd Shoemaker yang bersama Rogers menulis
Communication of Innovation: A Cross Cultural Approach (1971) sampai Lawrence
A. Brown yang menulis Innovation Diffusion: A New Perpective (1981).
A. Esensi
Teori
Teori Difusi Inovasi
pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu inovasi disampaikan
(dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada
sekelompok anggota dari sistem sosial. Hal tersebut sejalan dengan pengertian
difusi dari Rogers (1961), yaitu “as the process by which an innovation is
communicated through certain channels over time among the members of a social
system.” Lebih jauh dijelaskan bahwa difusi adalah suatu bentuk
komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaranan pesan-pesan yang
berupa gagasan baru, atau dalam istilah Rogers (1961) difusi menyangkut “which
is the spread of a new idea from its source of invention or creation to its
ultimate users or adopters.”
Sesuai dengan pemikiran
Rogers, dalam proses difusi inovasi terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu:
1. Inovasi,
gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam hal
ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang
menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi
untuk orang itu. Konsep ’baru’ dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama
sekali.
2. Saluran
komunikasi: ’alat’ untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada
penerima. Dalam memilih saluran komunikasi, sumber paling tidak perlu
memperhatikan (a) tujuan diadakannya komunikasi dan (b) karakteristik penerima.
Jika komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kepada khalayak
yang banyak dan tersebar luas, maka saluran komunikasi yang lebih tepat, cepat
dan efisien, adalah media massa. Tetapi jika komunikasi dimaksudkan untuk
mengubah sikap atau perilaku penerima secara personal, maka saluran komunikasi
yang paling tepat adalah saluran interpersonal.
3. Jangka
waktu: proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang mengetahui sampai memutuskan
untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat
berkaitan dengan dimensi waktu. Paling tidak dimensi waktu terlihat dalam (a)
proses pengambilan keputusan inovasi, (b) keinovatifan seseorang: relatif lebih
awal atau lebih lambat dalammenerima inovasi, dan (c) kecepatan pengadopsian
inovasi dalam sistem sosial.
4. Sistem
sosial: kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam
kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan
bersama
Lebih lanjut teori yang
dikemukakan Rogers (1995) memiliki relevansi dan argumen yang cukup signifikan
dalam proses pengambilan keputusan inovasi. Teori tersebut antara lain
menggambarkan tentang variabel yang berpengaruh terhadap tingkat adopsi suatu
inovasi serta tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi. Variabel yang
berpengaruh terhadap tahapan difusi inovasi tersebut mencakup (1) atribut
inovasi (perceived atrribute of innovasion), (2) jenis keputusan inovasi (type
of innovation decisions), (3) saluran komunikasi (communication channels), (4)
kondisi sistem sosial (nature of social system), dan (5) peran agen perubah
(change agents).
Sementara itu tahapan
dari proses pengambilan keputusan inovasi mencakup:
1. Tahap
Munculnya Pengetahuan (Knowledge) ketika seorang individu (atau unit pengambil
keputusan lainnya) diarahkan untuk memahami eksistensi dan keuntungan/manfaat
dan bagaimana suatu inovasi berfungsi
2. Tahap
Persuasi (Persuasion) ketika seorang individu (atau unit pengambil keputusan
lainnya) membentuk sikap baik atau tidak baik.
3. Tahap
Keputusan (Decisions) muncul ketika seorang individu atau unit pengambil
keputusan lainnya terlibat dalam aktivitas yang mengarah pada pemilihan adopsi
atau penolakan sebuah inovasi.
4. Tahapan
Implementasi (Implementation), ketika sorang individu atau unit pengambil
keputusan lainnya menetapkan penggunaan suatu inovasi.
5. Tahapan
Konfirmasi (Confirmation), ketika seorang individu atau unit pengambil
keputusan lainnya mencari penguatan terhadap keputusan penerimaan atau penolakan
inovasi yang sudah dibuat sebelumnya.
B.
Kategori Adopter
Anggota sistem sosial
dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok adopter (penerima inovasi) sesuai
dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi). Salah satu
pengelompokan yang bisa dijadikan rujuakan adalah pengelompokan berdasarkan
kurva adopsi, yang telah diuji oleh Rogers (1961).
Gambaran tentang
pengelompokan adopter dapat dilihat sebagai berikut:
1. Innovators:
Sekitar 2,5% individu yang pertama kali mengadopsi inovasi. Cirinya: petualang,
berani mengambil resiko, mobile, cerdas, kemampuan ekonomi tinggi
2. Early
Adopters (Perintis/Pelopor): 13,5% yang menjadi para perintis dalam penerimaan
inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati, akses
di dalam tinggi
3. Early
Majority (Pengikut Dini): 34% yang menjadi pera pengikut awal. Cirinya: penuh
pertimbangan, interaksi internal tinggi.
4. Late
Majority (Pengikut Akhir): 34% yang menjadi pengikut akhir dalam penerimaan
inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan
social, terlalu hati-hati.
5. Laggards
(Kelompok Kolot/Tradisional): 16% terakhir adalah kaum kolot/tradisional.
Cirinya: tradisional, terisolasi, wawasan terbatas, bukan opinion
leaders,sumberdaya terbatas.
Contoh Grafik pengelompokan adopter
C.
Penerapan dan keterkaitan teori
Pada awalnya, bahkan
dalam beberapa perkembangan berikutnya, teori Difusi Inovasi senantiasa
dikaitkan dengan proses pembangunan masyarakat. Inovasi merupakan awal untuk
terjadinya perubahan sosial, dan perubahan sosial pada dasarnya merupakan inti
dari pembangunan masyarakat. Rogers dan Shoemaker (1971) menjelaskan bahwa
proses difusi merupakan bagian dari proses perubahan sosial.
Perubahan sosial adalah
proses dimana perubahan terjadi dalam struktur dan fungsi sistem sosial.
Perubahan sosial terjadi dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu:
(1) Penemuan (invention), (2) difusi
(diffusion), dan (3) konsekuensi (consequences). Penemuan adalah proses
dimana ide/gagasan baru diciptakan atau dikembangkan. Difusi adalah proses
dimana ide/gagasan baru dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial,
sedangkan konsekuensi adalah suatu perubahan dalam sistem sosial sebagai hasil
dari adopsi atau penolakan inovasi.
Sejak tahun
1960-an, teori difusi inovasi berkembang lebih jauh di mana fokus kajian tidak
hanya dikaitkan dengan proses perubahan sosial dalam pengertian sempit. Topik
studi atau penelitian difusi inovasi mulai dikaitkan dengan berbagai fenomena
kontemporer yang berkembang di masyarakat.
Berbagai perpektif pun menjadi dasar
dalam pengkajian proses difusi inovasi,seperti perspektif ekonomi, perspektif
’market and infrastructure’ (Brown, 1981). Salah satu definisi difusi inovasi
dalam taraf perkembangan ini antara lain dikemukakan Parker (1974),
yang mendefinisikan difusi sebagai suatu proses yang berperan memberi nilai
tambah pada fungsi produksi atau proses ekonomi. Dia juga menyebutkan bahwa
difusi merupakan suatu tahapan dalam proses perubahan teknik (technical
change). Menurutnya difusi merupakan suatu tahapan dimana keuntungan dari suatu
inovasi berlaku umum.
Dari inovator, inovasi
diteruskan melalui pengguna lain hingga akhirnya menjadi hal yang biasa dan
diterima sebagai bagian dari kegiatan produktif.
Berkaitan dengan proses difusi inovasi
tersebut National Center for the Dissemination of Disability Research
(NCDDR), 1996, menyebutkan ada 4 (empat) dimensi pemanfaatan pengetahuan
(knowledge utilization), yaitu
1. Dimensi
Sumber (SOURCE) diseminasi, yaitu insitusi, organisasi, atau individu yang
bertanggunggung jawab dalam menciptakan pengetahuan dan produk baru.
2. Dimensi
Isi (CONTENT) yang didiseminasikan, yaitu pengetahuan dan produk baru dimaksud
yang juga termasuk bahan dan informasi pendukung lainnya.
3. Dimensi
Media (MEDIUM) Diseminasi, yaitu cara-cara bagaimana pengetahuan atau produk
tersebut dikemas dan disalurkan.
4. Dimensi
Pengguna (USER), yaitu pengguna dari pengetahuan dan produk dimaksud.
Pendapat:
Menurut saya hal yang
paling menarik dalam teori Rogers yaitu dalam proses difusi inovasi Rogers
membagi 4 elemen diataranya pertama adanya Inovasi, gagasan, atau tindakan yang
merupakan langkah awal untuk menemukan atau membuat suatu inovasi yang baru
yang dapat dikembangkan dalam kehidupan manusia. Kedua adanya saluran
komunikasi artinya inovasi yang baru tadi dapat di salurkan kepada khalayak
dengan cepat baik melalui media cetak ataupun melalui pendekatan secara
interpersonal. Ketiga jangka waktu. Dimana dalam hal sejauh mana suatu inovasi
yang baru dapat diterima atau ditolak oleh khalayak. Dan terakhir yaitu sistem
sosial. Dimana dalam hal ini apabila suatu inovasi tersebut mendapatkan suatu
masalah maka orang-orang yang membuat inovasi tersebut dapat memecahkan masalah
dengan cara berdiskusi dengan unit yang berbeda untuk mencapai tujuan bersama.
Teori Rogers ini pun
sangat membantu manusia dalam menciptakan inovasi-inovasi yang baru yang dapat
digunakan ataupun dimanfaatkan oleh masyarakat banyak dalam kehidupan
sehari-hari. Dan juga menambah pengetahuan bagi masyarakat yang belum mengerti
mengenai suatu inovasi yang baru.
Bahan Referensi
Hanafi, Abdillah.
1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional
Rogers, E.M. dan Shoemaker, F.F.,
1971, Communication of Innovations, London: The FreePress
Rogers, Everett M., 1983, Diffusion
of Innovations. London: The Free Press.
Rogers, Everett M, 1995, Diffusions
of Innovations, Forth Edition. New York: Tree Press.
Brown, Lawrence A., Innovation
Diffusion: A New Perpevtive. New York: Methuen and Co.
http://en.wikipedia.org/wiki/Everett_Rogers