Kamis, 22 Mei 2014

Kenapa harus terjadi?

Tetesan air mata ini tak bisa lagi ku bendung. Bahkan telah membasahi seluruh wajahku. Hembusan nafasku pun mulai tidak beraturan rasanya sesak untuk mengalami hal ini. Aku belum siap! Sama sekali tidak siap untuk semua ini. Rasanya aku ingin teriak kenapa hal ini terjadi lagi kepadaku. Rasanya tidak adil buatku. Kenapa harus aku yang alami? Kenapa tidak orang lain saja? Dan kenapa kamu buat aku seperti ini? Kenapa kamu berikan harapan kepadaku kalau akhirnya akan menyakitkan aku? Kenapaaaaaaa?

Malam itu moodku sama sekali tak stabil. Aku gelisah, aku cemas, bahkan aku menitikan air mata. Aku khawatir akan terjadi hal yang tidak baik malam ini. Ya tuhan, Aku kenapa? Tenangkan hatiku tolong peluk aku tuhan. Tak lama kabar buruk itu pun hadir. Lagi, lagi dan lagi kejadian yang sama terulang lagi. Namun kali ini lebih menyakitkan aku. Sungguh sangat menyakitkan. Emosiku sempat memuncak, aku tak bisa lagi menahannya. Nada suara yang keras bercamapur dengar tetesan air mata, belum lagi pikiranku yang semakin hancur dan nafas yang semakin sesak. Aku tak terima kenapa harus seperti itu? Kenapa kamu katakan hal itu kepadaku? Kamu tidak berfikir perasanku disini seperti apa? kamu pikikan itu semua tidak? ah apalah artinya semua ini, semuanya akan sia-sia.

Kini hanya perasaan kosong dan kesendirian yang kurasakan. Aku tak ingin mengingat semuanya lagi. Rasanya ingin aku hapus memoriku tentangmu, aku terlalu sakit untuk semua ini. Kamu berikan aku harapan yang besar, kamu selalu memotivasiku dengan kata “berjuang saja dulu, aku ingin lihat perjuanganmu seperti apa, SEMANGAT”. Kata kata ini selalu aku ingat sampai kapan pun akan aku ingat. Ini motivasiku untuk memperbaiki semuanya. Aku akan berusaha agar semua keinginanmu terwujud. Aku tak ingin kamu kecewa lagi. Aku takut bahkan sangat takut.


Sekarang, aku sudah temukan jawaban dari semuanya. kini aku sadar bahkan aku sudah paham apa yang menjadi keinginamu. Kenapa engkau berbuat seperti itu pun aku sudah tau. Tak perlu engkau jelaskan lagi. Mungkin dulu aku sudah dikuasai oleh emosi, aku terlalu ego, aku terlalu memprioritaskan diriku agar semuanya bisa aku miliki dan tak boleh lepas dari genggamanku. Aku lupa, aku tak melihat kamu. Maafkan aku. Banyak harapan yang telah kamu berikan kepadaku dan semuanya bermakna dalam hidupku. kenangan kita begitu indah bercampur sakit bila dibuka lagi. akan kusimpan rapat-rapat semua ini. 

Cerita hari ini tidak akan sama dengan hari esok. Aku tak ingin lagi mengharapkan kehadiranmu. Cukup semuanya. Kini kita punya kehidupan masing-masing. KAMU dan AKU itu berbeda. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar